Senin, 06 November 2017

Untukmu yang Terpilih Istriku

ISTRI
            Lembut kasih yang engkau berikan tak pernah engkau bedakan anak mu dan suami mu engkau selalu berpacu dalam waktu subuh engkau telah terbangun mengerjakan sholat tidak setiap hari engkau sehat terkadang engkau menderita kesakitan namun waktu mu tak pernah berkurang engkau selalu bangun dalam dinginnya embun pagi engkau selalu menyiapkan baju makanan suamimu dan anak-anak mu. Engkau memang terrlihat lemah tidak mampu mengangkat beban yang berat dengan jarak yang jauh tapi dengan ketekunan mu beban me selalu sampai pada tujuan mu meski itu berjalan ddengan terpatih-patih namun engkau selalu berjuang.
            Pagi suami mu pergi bekerja baju telah tersedia rapi tinggal memilih makan siang telah siap engkau susun dalam tas suami mu, baju anak-anak mu juga sudah engkau pasangkan sepatu makan siang anakmu sudah cukup engkau berikan dalam bekal mereka timba lah saatnya suamimu dan anak-anak mu pergi dan tak luput mereka meninggalkan bekas piring sarapan paginya tempat tidur yang masi berantakan rumah yang masih kotor karna selam anak-anak mu bermain hingga malam bahkan kotoran yang menempel disepatu suami mu juga berbekas dilantai ruangan mu.
            Meski anakmu telah pergi sekolah suami mu pergi bekerja namun kmu masi berburu waktu siang. Kmu selalu bekecimpung dengan pekerjaan, membersihkan tempat tidurmu membersihan tempat tidur anak mu membersihkan rumah mu menunggu nanti mereka pulang kembali, belum selesai pekerjaan mu dengan membersihkan rumah mu. Baju kotor anak-anak mu semalam yang ia pasang kini engkau kembali bekerja mencuci baju-baju mereka, belum lagi piring bekas sarapan tadi pagi sudah menunggu untuk dibersihan.
            Sungguh kuat engkau sang bidadari sungguh tabah hati mu sang cahaya engkau tak pernah istirahat terkadang dalam keadaan letih hp mu berdering suami memarahi mu karna dalam tasnya engkau berikan makanan anak-anak, begitu sibuknya engkau dipagi hari hingga engkau lupa tas anak mu dan tas suami mu. Beta tidak berat menjadi dirimu selalu jadi umpan dalam rumah mu segala sesuatu engkau kerjakan sendiri.
            Setelah engkau selesaikan rumah mu kini engkau kembali berburu waktu. Engkau harus melanjutkan pekerjaan memasak untuk makan siang mu dan anak-anak mu akan pulang sekolah engkau pasti takut mereka tidak mendapatkan makan siang dirumah dengan sekuat tenaga engkau kembali berjuang memasak masakan kesukaan anak-anak mu pasti engkau tidak akan rela masakan disekolah lebih enak dari maskan mu, dengan sepenuh hati engkau berusaha sekuat tenaga meski keringat pekerjaan pagi tadi belum juga kering kini engkau kembali lagi bekerja agar anak-anakmu betah makan dirumah.
            Wahai seorang istri engkau selalu berpacu dalam waktu. Tibalah masakan mu mulai terhidang anakmu sudah pulang senyumu mulai menawan melihat terikan mereka memanggilmu IBU... mereka masih kecil mereka tidak tau lelahmu mereka tidak akan paham letihnya dirimu yang mereka tau mereka lapar capek pulang sekolah dengan senang hati engkau menyambut nya menciumi pipi mereka yang penuh keringat terkadang terlihat raut wajah mereka yang tak senang engkau cium namun engkau tkan menyerah untuk menyayanginya.
            Kini siang telah tiba istirahatmu belum kunjung datang, kini engkau sibuk dengan anak-anak mu menggantikan baju sekolahnya menyiapkan baju mainnya mengambilkan nasi makan siang mereka bahkan mereka terkadang masi ingin disuapi karna mereka tak mengerti betapa letihnya dirimu dan kamu takan mengelu dengan senyum iklas engkau menyupinya padahal engkau belum makan.
            Saat siangmu telah berlalu kini sore mulai menunggu mu kamu kembali mengejar waktu dengan tumpukan piring kotor anak-anak mu, kini engkau kembali lagi bekerja membersihkannya sembari menunggu sore suami mu pulang.
            Saaat sore datang yang ditunggu pun pulang suami mu degan lemas pulang, namun kamu selalu menyemangatinya sementara kamu takan menghiraukan letihnya dirimu, bekas keringat bekas entah tadi dia memegang apa namun engkau tetap mencium tangan nya tanpa harus menyuruhnya mencuci tangan dulu engkau tetap iklas.
            Sore telah berlalu petang pun mulai redup untuk menyambut senja yang akan datang namun engkau belum jua beristirahat makanan malam yang mesti engkau siapkan kini engkau kembali bekerja untuk menu makan malam keluarga kalian. Sambil memasak anakmu juga datang untuk ingin dimandikan 2 pekerjaan engkau jalankan dalam satu waktu yang bersamaan. Sungguh mulia engkau seorang istri dengan iklas engkau selalu bekerja keringat kami para suamimu takan sanggub membayar keringatmu usaha kami ternyata tak sebesar usaha mu.
            Engkau terkurung dalam ruangan yang sempit engkau jarang melihat dunia karna engkau sibuk dengan pekerjaan rumahmu. Saat malam datang mulai lah engkau mempersiapkan makanan malam mu bersama anak-anak dan suami mu lepas makan malam pun engkau belum beristirahat engkau harus membersihkan kembali piring-piring kotor yang ada dimeja makan mu sisa makanan anak-anak mu yang harus engkau kumpulkan agar tidak terlihat kotor meja makan mu tidak hanya sampai disitu tumpukan baju kotor suamimu dan anak-anak mu yang harus membuat mu bekerja kembali. PR anak-anak mu yang harus engkau lihat dan tak luput engkau untuk mengajari mereka. Sudah larut malam barulah engkau bisa beristirahat sambil menemani anak2mu ditempat tidur mereka mungkin sambil menceritakan sesuatu yang bisa membuat anak-anak mu tertidur.

Wahai sang suami kapan istrimu istirahat pahamkah kalian akan letih mereka setiap wktu mereka bekerja kalian hanya siang bekerja malah sudah mengeluh kelelahan andai kalian paham kelelahan mereka pastilah kalian takn sanggub untuk memarahi mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar